Kilas Haji: Onrust, Karantina Tanpa Istirahat

Pulau Onrust dan sekitarnya adalah salah satu pulau dari gugusan Pulau Seribu yang berdasarkan Keputusan Gubernur KDKI Jakarta Nomor: Cb 11/2/16/1972 dinyatakan sebagai pulau sejarah yang dilindungi.

Sesuai dengan Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta Nomor 134/2002 Taman Arkeolog Onrust ditetapkan sebagai UPT di lingkungan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Propinsi DKI Jakarta. Pulau Onrust terletak pada 106 derajat 44’0″ Bujur Timur dan 6 derajat 02’3″ Lintang Selatan dan mudah dicapai dengan transportasi laut, bisa melalui Muara Kamal, Muara Angke dan Pantai Marina Ancol dengan jarak kurang lebih 14 km dan bisa ditempuh kurang lebih 20 menit.

 

Seperti dilansir laman Kemenag.go.id, Jumat (4/9), nama Onrust dari bahasa Belanda yang artinya “tanpa Istirahat” atau sibuk. Penduduk setempat menyebutnya pulau kapal, karena pada abad 17 -18 pulau ini sangat sibuk disinggahi banyak kapal VOC. Selain itu, Pulau Onrust juga berfungsi sebagai tempat perbaikan dan pembuatan kapal, sehingga memang bena -benar pulau ini sangat sibuk pada masa itu.

 

Pada tahun 1848 mulailah Pulau Onrust dan sekitarnya oleh Belanda difungsikan kembali sebagai Pangkalan Angkatan Laut namun sarana ini hancur berat akibat gelombang Tidal letusan gunung Krakatau tahun 1883. Kemudian tahun 1911 sampai tahun 1933 Pulau Onrust diubah fungsi menjadi Karantina Haji.

 

Kemudian pada awal masa kemerdekaan, Pulau Onrust dimanfaatkan sebagai Rumah Sakit Karantina bagi penderita penyakit menular, dibawah pengawasan Departemen Kesehatan RI hingga awal 1960. Sejak 1960 sampai 1965 pulau Onrust dimanfaatkan untuk menampung gelandangan dan pengemis serta untuk latihan militer. Pada tahun 1968 terjadi penjarahan besar besaran dipulau Onrust, sehingga bangunan bersejarah tinggalah puing saja.

 

Kini Artefak yang dapat disaksikan di Pulau Onrust hanya pondasi bastion benteng, pondasi kincir angin, dermaga, bangunan penjara, meriam, sisa sisa bangunan haji. Pulau disekitar Onrust seperti Pulau Bidadari dapat dilihat menara jaman Hindia Belanda yang dibuat tahun 1850.

Melihat bangunan menara ini mengingatkan bahwa dipulau Bidadari pernah dijadikan tempat pertahanan militer, dan juga Pulau Kelor terdapat menara pengawas, dapat dilihat juga reruntuhan tembok suatu bangunan yang diperkirakan tembok benteng pertahanan.

Sementara Pulau Cipir masih terdapat bangunan bekas Rumah Sakit Karantina Haji yang berfungsi pada tahun 1911 sampai 1933. Selain itu terdapat dermaga juga pondasi benteng lingkar dan meriam kuno.