Pandangan Raffles Terhadap Jemaah Haji Nusantara

Pandangan Sir Thomas Stamford Raffles, Letnan Jenderal semasa pemerintahan peralihan Inggris di Hindia Belanda (1811-1816), mengekspresikan kecurigaan dan kebencian terhadap para haji yang baru kembali dari tanah suci.

“Para imam agama Muhammad tanpa terkecuali ditemukan dalam setiap kasus pemberontakan yang paling efektif. Kebanyakan dari mereka keturunan campuran Arab dan pribumi yang pergi dari satu negeri ke negeri lain di belahan timur…”, catat Raffles dalam karya monumentalnya, The History of Java.

Tak hanya Raffles, VOC juga memiliki pandangan serupa, meski sangat didasari kepentingan ekonomi. Tahun 1664, mereka melarang tiga orang Bugis yang baru pulang dari Mekkah untuk mendarat di Hindia Belanda. VOC beralasan, “kedatangan mereka ke tengah-tengah bangsa Muhammad yang percaya takhayul di daerah ini memiliki konsekuensi yang sangat serius.”

Kesan negatif tentang haji itu sebagian didasarkan pada persepsi kolonial terhadap orang-orang Arab, yang justru memperoleh penghormatan tinggi dari kaum Muslim di Nusantara. Raffles, dalam sebuah laporan dari Malaka bertanggal 10 Juni 1811, menulis bahwa orang Arab dengan dalih mengajar orang-orang Melayu tentang prinsip-prinsip agama Muhammad, menanamkan kefanatikan yang sangat intoleran.

Pandangan Raffles pada gilirannya berperan penting dalam membentuk imaji kolonial tentang Islam dan kaum Muslim. Bersama sejumlah sarjana Inggris lain, seperti William Marsden dan J. Crawfurd, Raffles memelopori studi-studi serius tentang Islam. Gambaran Raffles tentang bahaya politik haji tetap utuh, bahkan menjadi salah satu perhatian kolonial yang utama tentang Muslim Hindia Belanda.

“Haji dianggap sebagai sarana di mana spirit pemberontakan menjadi sumber imajinasi keagamaan para haji dari Nusantara,” tambah Michael F. Laffan dalam Islamic Nationhood and Colonial Indonesia: The Umma Below the Wind. Ketakutan Raffles -dan pemerintah kolonial secara umum- menunjukkan kuatnya pengaruh haji dalam transformasi sosio-religi masyarakat Hindia Belanda.

Pasca kolonial, semakin berlomba-lomba orang naik haji. Puluhan ribu per tahun. Sekali, dua kali, berkali-kali. Maka, kita dihadapkan pada pertanyaan; apakah sekarang jamaah haji kita masih mewarisi spirit yang sama, ataukah terlambat memaknainya untuk sekedar menjadi wisata religi puluhan juta?