Meski Berkembang Pesat, Kerja Sama Program Madrasah Diuji

Kementerian Agama (Kemenag) menggelar Konferensi Praktik Terbaik Program Kerja Sama Peningkatan Mutu Madrasah. Sederet inovasi pembelajaran di madrasah ditampilkan pada kegiatan tersebut.

Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, Kamaruddin Amin mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk memberikan inspirasi kepada para pemangku kepentingan di tingkat Kanwil Kemenag Provinsi, Pengawas, dan pengurus Kelompok Kerja Madrasah (KKM) dalam pengembangan pendidikan. Selain itu, kata dia, praktik terbaik ini sengaja dipresentasikan agar mereka dapat memahami dan mengaplikasikan secara massif di daerah masing-masing, baik menggunakan skema pembiayaan APBN atau lainnya.

“Saya berharap praktik yang baik dari program kerjasama peningkatan mutu madrasah yang difasilitasi oleh berbagai lembaga donor dapat terus kita rawat dan diseminasi kepada madrasah-madrasah lainnya. Bahkan dalam waktu dekat Ditjen Pendidikan Islam akan menjalin kerjasama dengan Finlandia dalam rangka peningkatan mutu pendidikan Islam,” ujarnya belum lama.

Madrasah merupakan lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag RI). Meski berbasis agama, namun kini madrasah telah dapat bersaing dengan sekolah-sekolah umum lainnya. Hal demikian tidak luput dari peran pemerintah melalui Kemenag untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan di madrasah.

Pada kesempatan sama, Kepala Seksi Bidang Kerja Sama Kelembagaan Ditpenmad Abdullah Faqih mengatakan banyak praktik baik yang telah dikembangkan madrasah melalui beragam program. Sayang, banyak di antaranya kemudian ikut mati seiring dengan berhentinya program. “Melalui konferensi ini, Kemenag mendorong praktik-praktik yang baik dari USAID PRIORITAS dapat disebarluaskan ke lebih banyak madrasah,” ungkapnya.

Menurutnya, sejak tahun 2012, USAID PRIORITAS sudah melatih dan mendampingi 290 madrasah mitra, dan lebih dari 3.000 madrasah sudah melakukan diseminasi pelatihan. Tetapi, masih ada sekitar 12.000 madrasah yang belum mendiseminasikan pelatihan USAID PRIORITAS.

“Kita sudah memiliki banyak contoh praktik-praktik baik di madrasah mitra USAID PRIORITAS. Untuk itu kami mendorong Kemenag di provinsi dapat memanfaatkan fasilitator-fasilitator pelatihan USAID PRIORITAS saat melaksanakan pelatihan di daerah masing-masing,” katanya.

Untuk diketahui, ada tiga inovasi praktik terbaik yang dipresentasikan dalam kesempatan ini. Pertama, demonstrasi percobaan pembelajaran IPA terkait pengaruh penutupan tanah dengan tumbuhan terhadap volume air yang dikeluarkan oleh tiga siswa MTs Al-Mukhtariyah Bandung Barat.

“Bencana banjir yang sering terjadi di Bandung Barat membuat kami tertarik melakukan percobaan ini. Hipotesis kami adalah tanah yang ditumbuhi tanaman dapat menyerap air dan mencegah terjadinya erosi tanah,” kata Zulfikar Eka, sebagaimana dikutip dari laman kemenag.go.id belum lama ini.

MTs Al-Mukhtariyah merupakan salah satu madrasah mitra program USAID PRIORITAS, hasil kerja sama Direktorat Pendidikan Madrasah dengan USAID. Selain USAID PRIORITAS, kerja sama dalam rangka peningkatan mutu pendidikan madrasah ini juga berbentuk program Kemitraan Pendidikan Australia-Indonesia (DFAT), Lesson Study (JICA), Peace Corps, dan English Teaching Assistanship (AMINEF).

Dalam USAID PRIORITAS, para guru, kepala madrasah, dan komite madrasah dilatih dan didampingi dalam menerapkan pembelajaran aktif yang mendorong siswa belajar menggunakan kemampun berpikir tingkat tinggi, mengembangkan budaya baca, dan manajemen berbasis sekolah.

Wakil Kepala MTs Al-Muktariyah Ruba Nurzaman mengatakan ada hal positif dari program tersebut. “Dampaknya, madrasah kami sekarang menjadi madrasah favorit. Tahun 2016 jumlah siswa kami sudah mencapai lebih dari 1500 siswa. Pada lomba Biologi dan Fisika tahun 2015 di tingkat kabupaten, kami juga berhasil meraih juara pertama. Bahkan pada lomba IPA SMP dan MTs di tingkat provinsi tahun 2014, kami berhasil meraih juara pertama,” paparnya.

Kemudian yang kedua, inovasi yang dipamerkan oleh ASN Kankemenag Pasuruan yang berhasil mengembangkan praktik lesson study melalui pemberdayaan KKM. Meski sudah tidak mendapatkan bantuan dari program JICA, program lesson study kelompok kerja madrasah tetap berjalan.

Sedangkan inovasi ketiga adalah praktik implementasi program Aflatoen yang dipresentasikan Aflatoen Indonesia. Program ini konsen soal pendidikan sosial dan finansial. Saat ini, ketika sudah tidak mendapatkan proyek dan dukungan APBN, modul-modul Aflatoen terus dikembangkan di madrasah.