Ada Sebutan Lain Kakbah, Ini Selengkapnya

Berdasarkan teks Alquran yang mutlak kebenarannya, Kakbah adalah bangunan pertama di muka bumi. Sejak detik penciptaan, Kakbah menyimpan berjuta keistimewaan bagi semesta. Tidak saja para malaikat yang terlibat secara langsung dari awal dalam kehadiran Kakbah di muka bumi, bahkan dari manusia pertama menjejakkan kaki di tanah hingga hari ini tidak ada yang tidak terkait dan terikat dengan Kakbah. Para mahluk Allah menjadikan Kakbah sebagai titik sambung menuju ke-khalikan-an yang transenden ‘ilahiah’ dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi hingga saat hari kelak diakhiri.

Kakbah makin istimewa karena namanya pun diberikan Allah SWT sendiri sebagaimana tertuang dalam Alquran surat al-Ma’idah ayat 97 : Allah telah menjadikan Kakbah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram , had-ya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Selain nama definitif, Allah SWT juga menyebut Kakbah dengan nama lain, yaitu:

1. al-Bait atau Baitullah, artinya rumah Allah. Sebutan ini tersebar dalam beberapa surat seperti al-Baqarah (2:125): “Dan ingatlah, ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman.

2. al-Bait al-Haram, artinya Rumah Suci, tertulis dalam al-Maidah (5:97): “Allah telah menjadikan Kakbah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia bagi) manusia.” Menurut Ibn Jauzi, Kakbah dinamakan al-Haram karena adanya larangan berburu dan mencabut pepohonan di dalamnya sehingga kesuciannya terjaga. Sebutan al-Haram meliputi keseluruhan kota Mekkah dengan Kakbah sebagai pusatnya.

3. al-Bait al-Muharram. Antara lain tertuang dalam QS Ibrahim: 37 “Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-MU (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

4. al-Bait al-‘Atiq, artinya Rumah Tua. Dalam Surah al-Hajj ayat 29: “Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (al-bait al-Atiq).” al-‘Atiq mengandung makna bahwa di dalam Kakbah, Allah membebaskan (yu’tiq) orang-orang dari adzabnya.

5. Qiblat: “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai…”

Pada masa sebelum Islam, masyarakat sekitar menyebut dengan nama Al-Qadis, Nadzir dan al-Qaryah al-Qadimah. Semua sebutan di atas mengacu pada Kakbah yang terletak di dalam Masjidil Haram di Kota Mekkah sebagaimana kita kenal sampai detik ini.
Kata Kakbah dengan akar kata yang sama tetapi mengacu pada makna lain terdapat dalam surat al-Ma’idah: 6, yaitu ‘Kakbain’ atau bentuk tasniah (dua) untuk makna ‘dua mata kaki’. Dalam perkembangan selanjutnya, kata Kakbah juga mengacu pada bangunan-bangunan bentuk kubis persegi empat lainnya (rubui), namun sepenuhnya secara mutlak Kakbah adalah bangunan yang ditentukan Allah sebagai titik kiblat yang menghubungkan mahluk di bumi dan Sang Khaliq di Arsy.