Indonesia Runner Up Destinasi Wisata Halal

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyampaikan, Indonesia saat ini berada di peringkat kedua sebagai destinasi halal dunia versi Global Muslim Travel Index (GMTI) 2018. Sementara, posisi pertama masih ditempati oleh Negara Malaysia.

Supaya Indonesia dapat menduduki peringkat pertama destinasi halal dunia versi GMTI, Pemerintah Indonesia dan stakeholder wisata halal diminta memperbaiki beberapa aspek. Di antaranya aspek infrastruktur, kebijakan, sumber daya manusia (SDM) dan aspek promosi wisata halal.

Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC), Sapta Nirwandar berpandangan, infrastruktur adalah modal dasar mengembangkan objek wisata. Di objek wisata harus disediakan fasilitas yang berkaitan dengan kebutuhan wisatawan Muslim. Artinya harus ada peningkatan infrastruktur, sarana dan prasarana yang berkaitan dengan wisata halal.

Ia menerangkan, kualitas pelayanan dan kualitas objek wisata halal juga harus ditingkatkan. Terkait peningkatan kualitas pelayanan. Contohnya ada wisatawan berkunjung ke masjid, maka pengelola objek wisata harus mampu menjelaskan arsitektur masjid, sejarah pembangunan masjid dan hal-hal yang membuat masjid tersebut menarik.

photo

Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) Sapta Nirwandar memaparkan penjelasan pada diskusi Workshop Global Halal Industry di Grand Sahid Jaya, Jakarta.

Terkait peningkatan kualitas objek wisata halal. Contohnya objek wisata halal yang berada di alam terbuka, maka harus disediakan mushala atau masjid untuk wisatawan Muslim yang berkunjung ke sana. Di objek-objek wisata mesti tersedia tempat sembahyang yang bersih dan memadai.

Objek wisata mestinya dilengkapi tempat parkir, tempat penitipan barang dan berbagai fasilitas lainnya yang memadai serta tertata rapi. “Artinya infrastruktur di objek wisata juga harus ditingkatkan, ditingkatkan kualitasnya dan pelayanannya,” kata Sapta, Selasa (26/6/2018) kemarin.

Ia menerangkan, di objek wisata halal juga harus ada tempat makan dan hotel yang halal. Perlu ada hotel-hotel yang ramah terhadap wisatawan Muslim (hotel Muslim friendly). Hotel seperti ini bisa untuk tinggal semua kalangan karena hotel dan restoran halal bisa untuk Muslim dan non Muslim.

“Hotel yang Muslim friendly tidak hanya untuk Muslim, orang lain (non-Muslim) juga bisa tinggal di sana, jadi tidak eksklusif tapi juga inklusif untuk orang lain, seperti restoran halal bisa buat Muslim bisa buat non-Muslim,” ujarnya.

Menurutnya, awalnya hal-hal dasar yang harus ditingkatkan, seperti infrastruktur, kualitas objek wisata dan sumber daya manusia. Setelah dasar-dasarnya baik tinggal dibuat even-even kreatif seperti pertunjukan seni yang islami dan lain sebagainya.

Ia menambahkan, sebagai upaya menarik wisatawan dan mempromosikan objek wisata, bisa dibuat even-even di lokasi objek wisata. Misalnya menampilkan pertunjukan seni dan budaya yang islami, menggelar halal fair, Islamic fair atau Ramadhan fair.

Tour Leader Muslim, Arsiya Heni Puspita juga menyampaikan, sejumlah objek wisata di Indonesia masih belum memenuhi syarat untuk Go Internasional. Sebagai contohnya kebersihan toilet di objek wisata belum terawat secara maksimal. Selain itu di sejumlah objek wisata juga ada tempat sembahyang atau tempat sholat yang belum cukup layak.

“Infrastruktur ke objek wisata juga belum mendukung, contohnya bus pariwisata di Indonesia banyak yang belum memenuhi standard pariwisata, juga belum terkoneksinya antara pariwisata yang satu dengan yang lainnya,” ujarnya.

Dia menyontohkan Thailand, wisatawan yang akan berangkat dari Bangkok ke Pattaya, di antara Bangkok dan Pattaya ternyata banyak terdapat objek wisata. Jadi wisatawan yang mau ke Pattaya dari Bangkok, bisa mampir dulu ke objek wisata yang terlewati.

photo

Desa Wisata Halal Setanggor, Lombok Tengah. Pengunjung bisa merasakan sensasi mengaji di tengah sawah.

Padahal dibandingkan dengan negara lain, alam Indonesia jauh lebih indah dan masyarakat Indonesia sangat ramah. Selain itu kekayaan budaya juga lebih banyak di Indonesia ketimbang di negara lain. Sehingga potensi wisata di Indonesia lebih banyak dan unggul dibanding negara lain.

Managing Director salah satu travel Muslim, Handayani Patrianti Kartini menyampaikan hal serupa. Berdasarkan pengalamannya di dunia wisata, hanya sedikit menemukan hotel-hotel yang mau menyediakan mushola layak pakai untuk tamu dan karyawannya. Juga sedikit hotel yang menyediakan perlengkapan sholat dan petunjuk arah sholat

Menurutnya, mungkin pengelola hotel beranggapan khawatir tamu hotel non Muslim akan merasa kurang nyaman jika disediakan fasilitas sholat. Selain itu restorannya juga masih banyak yang bercampur antara makanan yang halal dan tidak halal.– rep