Skip to Content

Haji, Spiritualitas dan Tourism

Author: | Posted on 12:07 pm
Bagi seorang muslim berhaji adalah menunaikan rukun Islam. Bagi sebagian lagi haji adalah obsesi. Untuk rakyat biasa berhaji adalah “rihlah ruhaniyah” (perjalanan spritual), untuk kalangan berduit haji seringkali diartikan sebagai “rihlah siyahiyah” (perjalanan wisata). Tak heran jika setiap tahun peminat haji terus mendaftar pun juga haji khusus (dulu namanya ONH Plus) selalu diminati kalangan atas yang mampu bayar lebih. Beberapa fasilitas yang diperolehpun terbilang mewah dan fantastis bahkan cenderung memanjakan jamaah haji. Adapun bagi mereka yang dari kalangan biasa atau mendaftar haji reguler benar-benar mesti siap fisik dan mental karena akan menghadapi rangkaian ritual ibadah haji yang melelahkan apalagi jika pemondokannya jauh dari Masjidil Haram atau tendanya di Mina tidak dekat dari tempat melempar jumroh. Apapun cara dan fasilitas menuju Baitullah saya masih menilai mereka sebagai tamu-tamu “Rahman” yang laiknya sebagai tamu seyogyanya mendapat sambutan dan pelayanan yang istimewa baik dari “host country” maupun dari panitia penyelenggara. Ingat “ikromud dhoif” atau memuliakan tamu adalah suatu kehormatan dan menjadi tanda orang beriman, demikian bunyi sebuah hadis. “Saya berhaji karena saya mau maju lagi di Pilkada mendatang,” tukas salah seorang pejabat yang berasal dari daerah terkenal di nusantara. “Saya sih sedang menghadapi tuntutan hukum ni, semoga bisa lolos dari proses hukum,” cetus satunya lagi dalam kesempatan terpisah. Terus terang agak “ngeri-ngeri sedap” karena setahu saya ibadah haji adalah murni untuk mengagungkan Tuhan dengan melepaskan keduniaan kita menyatu dengan jamaah lain menjadi manusia seutuhnya hanya “demi Dia, untuk Dia dan kepada Dia.” Jadi kembali kepada anda apakah perjalanan haji ini adalah ibadah spiritual? atau hanya sekedar menjadi “wisatawan religi” yang membuat haji semacam “break” dari kepenatan hidup atau mencari justifikasi kepada Tuhan bahwa dirinya layak mendapat titel “Haji”. Hanya anda dan Yang Maha Esa yang tahu jawabannya. Saya hanya bisa berdoa semoga semua jamaah haji menjadi haji yg mabrur, membawa perubahan positif pada diri masing-masing, menambah kualitas ibadah serta mendapat pengalaman spiritualitas yang penuh makna tanpa menghilangkan sisi turisme yang menyenangkan meski dengan tubuh letih, kaki perih dan perjalanan yang tertatih. Oleh: Rahmat Aming Lasim