Pintu Kakbah dari Masa ke Masa (1)

Oleh: Mahrus Em Al’ab, Pengurus PP IPHI

Pintu Kakbah dari generasi ke generasi menjadi salah satu ‘center point’ perhatian umat. Sejak kapan Kakbah berpintu, para sejarahwan Islam masih bersilang pendapat. Riwayat hanya menyebut bahwa awalnya ada dua pintu Kakbah dengan posisi setara tanah sebelum ditinggikan seperti terlihat saat ini. Orang-orang masuk dari pintu timur dan keluar melalui pintu barat. Hal itu berlangsung selama beribu tahun hingga suatu ketika untuk pertama kali bentuk bangunan purba tersebut berubah pada renovasi yang dilakukan suku Quraisy akibat kekurangan biaya sehingga tinggal menyisakan satu pintu di sebelah timur dan bagian utara dikurangi sehingga menyisakan Hijir Ismail yang kini berada terpisah dari bangunan utama. Bentuk tersebut tampak seperti Kakbah yang kita lihat pada hari ini.

Sumber data tentang pintu Kakbah di masa awal memang kurang memadai sehingga terjadi beda pernyataan yang jaraknya pun sangat jauh antar generasi. Sebuah riwayat menyebut bahwa pintu pertama kali dibuat oleh Anusy, anak Nabi Syits. Saat itu pintu yang dibuat hanya berbahan selembar papan tanpa kunci. Ada pula yang menyebut bahwa pertama kali dibuat pada masa Nabi Ibrahim AS dan Ismail. Riwayat menyebut bahwa hingga masa Nabi Ismail dua pintu Kakbah belum memiliki daun pintu dan untuk pertama kalinya Kakbah diberi lembar pintu oleh Tubba As’ad Abu Karb al-Khuamiri, seorang raja berasal dari Yaman. Ia juga yang pertama kali memasang kiswah. Tubba disebut sebagai orang pertama yang memasang kiswah dan melekatkan kunci pada pintu Kakbah, kemudian Jurhum melakukan perubahan dengan membuat pintu dari dua belah papan lengkap dengan kuncinya.

Ketika Kakbah dipugar oleh Suku Qurasy pada masa mudanya Nabi Muhammad SAW, pintu Kakbah diperbarui dengan dua lembar papan tebal dan melekatkan kunci pada pintu. Setelah Nabi SAW wafat dan Mekkah dipimpin Abdullah bin Zubair, renovasi pintu tidak mengubah bentuknya dari yang lama, hanya saja menambahkan tingginya menjadi 11 hasta atau sekitar 5 meter. Namun tinggi pintu itu diubah lagi oleh Hajjaj ke bentuk zaman sebelum Nabi SAW, ia memendekkan pintu menjadi 6 hasta atau kurang dari 3 meter.

Pada masa kekhalifahan Abbasiyah, Khalifah Al Amin Muhammad putra dari Harun Ar Rasyid memberikan perintah untuk merenovasi pintu Kakbah pada tahun 194 H atau 816-an M. Oleh karena menghendaki agar pintu Kakbah terlihat lebih indah maka ia mengirimkan dana sebesar 16.000 dinar untuk menghiasi pintu Kakbah dengan ornamen terbuat dari emas dan perak. Kemudian pada masa kepemimpinan Khalifah Almu’tashim Billah, dibuatlah kunci pintu Kakbah dengan emas senilai 1000 Dinar pada tahun 219 H atau 921-an M. Khalifah Al Mu’tahashim Billah bermaksud hendak menukar kunci lama dengan kunci baru terbuat dari emas, namun akhirnya penukaran ini tidak terjadi dan anak kunci yang lama diserahkan kepada penjaga pintu Bani Syaibah.

Dalam riwayat lain disebutkan Jamaluddin Ali bin Manshur Al Jawad membuat pintu Kakbah dari papan yang di atasnya tertulis nama Khalifah Al Muktafi yang terbuat dari kepingan emas. Kemudian papan pintu Kakbah yang lama diambil, ada pendapat yang menyatakan bahwa papan tersebut untuk dijadikan keranda bagi dirinya sendiri. Ada pula yang mengatakan bahwa papan itu diambil guna dijadikan kerenda bagi Khalifah al-Muktafi saat wafat. Rupanya pintu Kakbah yang berkali-kali mengalami perubahan, menarik para penguasa dari luar Mekkah untuk andil dalam perawatan dan pembuatannya. Pada 12 Dzulqakdah 733 H, Sultan ke-9 Dinasti Mamluk Mesir An Nasir Muhammad bin Kalawun (الملك الناصر ناصر الدين محمد بن قلاوون 1285-1341 M) mendermakan hartanya senilai 35.300 dirham untuk menyematkan perhiasan pada pintu Kakbah yang sebelumnya pintu ini hanya terbuat dari papan kayu polos tanpa pernak-pernik perhiasan. Ini merupakan penghiasan pertama dengan permata dan disematkan batu-batu mulia. Sejak itu hingga lebih 200 tahun berikutnya mengalir kisah-kisah yang menyatakan bahwa sering terjadi pengambilan perhiasan yang melekat pada pintu Kakbah. Tujuan pelaku pencurian ini beragam, selain karena faktor ingin menguasai materi ada juga yang mengambil dengan tujuan untuk dijadikan kenangan hingga jimat. Hal ini akhirnya menggerakkan Sultan Sulaiman Khan dari dinasti Turki Usmani untuk membuat pintu Kakbah yang baru pada 961 H (1494 -1566 M).