Skip to Content

Nahkoda Baru IPHI, H. Ismed Hasan Putro

Author: | Posted on 8:00 pm
Sejak Mayjend TNI H. Kurdi Mustofa yang menjabat sebagai ketua umum PP IPHI (2010-2015 – 2020) wafat pada Ahad (1/04/2017) organisasi para haji Indonesia kehilangan Sang Ketua Umum. Namun pada bulan Agustus 2018, telah resmi kembali memiliki pimpinan secara definitif, yaitu H Ismet Hasan Putro, “Sang Pendobrak” mantan Direktur Utama Rajawali Nusantara Indonesia (RNI).   H. Ismet memimpin RNI mulai Maret 2012 hingga Mei 2015. Seperti disampaikan pada awal pengangkatannya sebagai orang nomor satu di BUMN ini, dia hanya perlu 3-4 tahun duduk di puncak pimpinan selanjutnya harus ada regenerasi dan dia akan fokus ke usaha dan ibadah.   Benar, pada 2018 ini H. Ismet memilih berkhidmat di IPHI. Masyarakat haji di tanah mungkin belum terlalu dekat dengan sosok pekerja cerdas dan keras ini karena sebelumnya memang menghabiskan waktunya di dunia jurnalistik dan BUMN. Namun sosoknya sebagai tokoh berintegritas tinggi sudah terbukti selama ini.   Integritas Sebagai mantan wartawan, Ismed mengakui latar belakang jurnalistiknya membantu dalam memimpin entitas bisnis sekelas RNI maupun usaha yang dikembangkan sebelumnya.   “Pengalaman itu (sebagai jurnalis) memang berpengaruh. Terutama dalam pemetaan masalah dan bagaimana berinteraksi dengan karyawan,” ungkap mantan jurnalis di dua media nasional itu. Dia menekankan, seseorang yang menjadi jurnalis terbiasa dan terkondisi bersikap egaliter. Ketika di RNI, sikap itu membuatnya merasa para karyawan menjadi bagian dari dirinya sehingga mampu menangkap aspirasi dan harapan mereka. “Itu membuat saya dimudahkan jalan, menjadi lapang dan mendapat dukungan serta terhindar dari jebakan kekuasaan,” terang dia yang merupakan pendiri dan sempat menjadi ketua umum Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI).   Kesehariannya juga akrab dengan kerja keras. Tak jarang dia bermalam di kantor usai memimpin rapat hingga lewat tengah malam dan mesti kembali bekerja pada pagi hari. “Mungkin bisa dibilang, saya terbiasa bekerja keras karena faktor orang tua dan lingkungan. Juga, kombinasi tumbuh di Palembang dan Surabaya membuat saya terbiasa seperti ini,” ujarnya yang menyempatkan waktu berlari di threadmill. Ismed juga mengakui, sosok pribadinya sering dihubungkan dengan sang atasan, Menteri BUMN Dahlan Iskan lantaran kedekatan personal.   “Empat hal yang melekat pada seorang profesional ialah trust, integritas, kompetensi dan reputasi. Faktor Pak Dahlan Iskan hanya datang di akhir karena beliau penentu keputusan akhir setelah proses fit and proper test,” ujarnya. – “Saya akan fokus ibadah dulu deh, selanjutnya mengembangkan bisnis saya sendiri mulai dari properti hingga perkebunan sawit,” kata mantan Dirut Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). RNI bergerak di empat bidang usaha yaitu agroindustri, farmasi dan alat kesehatan, perdagangan dan distribusi serta properti. Saat ini RNI sebagai perusahaan induk memiliki 13 anak perusahaan. Dalam bidang agroindustri, RNI memiliki dan mengelola 10 pabrik gula yang tersebar di Jawa Barat, Yogyakarta dan Jawa Timur, perkebunan sawit dan perkebunan teh serta beberapa pabrik pengolahan produk hulu dan samping berbasis tebu. Di bidang perdagangan dan distribusi, RNI memiliki anak perusahaan dengan cabang-cabang yang terdapat di kota besar seluruh Indonesia dan gerai – gerai mini market dengan nama Rajawali Mart dan Waroeng Rajawali di Bali, Lombok, Makasar, Surabaya, Malang, Semarang, Jabodetabek, Serang Banten, Medan, menyusul akan dibuka di Yogyakarta, Palembang, Cirebon, Solo dan Madiun serta beberapa kota yang tengah digarap di Indonesia. Di bidang farmasi dan alat kesehatan meliputi pabrik obat, pabrik alat suntik dan lainnya. Pengalaman memimpin badan usaha dengan pengelolaan profesional akan berpengaruh kuat terhadap pengelolaan organisasi para haji ini. Semoga. (ma)