Skip to Content

Nyaris Dideportasi, Paspor Umrah 17 Santri Cilik Tertinggal di Kualalumpur

Author: | Posted on 1:57 pm
Belum lama ini Staf Teknis Haji (STH) II, Amin Handoyo, menceritakan proses pendampingan kasus 17 jamaah umrah, yang seluruhnya merupakan santri penghafal Al Qur’an, tertahan di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Mereka masuk Arab Saudi tanpa identitas keimigrasian. Menurut Amin, kejadian berawal dari perjalanan ibadah umrah santri dan pembimbingnya dari Indonesia menuju ke Arab Saudi dengan transit terlebih dahulu di Kuala Lumpur Malaysia. Saat akan melanjutkan perjalanan ke Jeddah, 17 paspor mereka tertinggal di bandara Internasional Kuala Lumpur.   “Kami langsung ke bandara dan bertemu dengan Wakil Manajer Imigrasi Bandara Jeddah. Dari 25 orang jamaah umrah 17 orang yang paspornya ketinggalan, padahal 15 di antaranya merupakan anak yatim yang usianya 7-8 tahun. Mereka terancam dideportasi,” papar Amin Handoyo melalui pesan singkat dari Jeddah, Selasa (30/10/2018).   Amin bersama Tim Divisi Umrah KUH Jeddah bernegosiasi dengan Imigrasi Bandara Jeddah. Kesepakatan akhirnya didapat. 17 orang jamaah yang sebagian besar anak yatim ini diizinkan masuk Arab Saudi dengan penjaminan dari pihak KJRI.   “Alhamdulillah mereka dapat beribadah dengan jaminan surat keterangan dari Konsulat Jenderal RI Jeddah. Tentu dokumen yang tertinggal harus segera kami serahkan,” kata  Amin.   Dokumen yang tertinggal di bandara Kuala Lumpur akan dititipkan oleh maskapai pengangkut jamaah umrah tersebut. Bila ternyata paspor tidak ditemukan KJRI juga telah bersedia membuatkan Surat Perjalanan Laksana Pasport (SPLP) bagi para santri tahfidzul qur’an ini.   “Beruntung mereka memiliki ID Card yang mencantumkan nama dan nomor paspor, sehingga pihak imigrasi bandara bisa memproses pencetakan visa dan pengambilan data biometric,” kata Amin yang pernah menjabat Kepala Seksi Dokumen Haji di Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah.   Beberapa hari berikutnya, pihak Imigrasi memberitahukan bahwa paspor milik 17 jamaah tersebut tiba di Jeddah. Mengetahui jamaah umrah ini anak yatim dan penghafal Al Qur’an rupanya pihak imigrasi bandara Jeddah sangat bersimpati.   Amin mengisahkan para santri diminta para petugas imigrasi menghafalkan beberapa ayat Al Qur’an di hadapan mereka. Di antara dari mereka bahkan ada yang memberi makanan dan uang saku.   “Sangat terlihat sisi humanis orang Arab Saudi. Mereka sangat peduli, seakan mereka ingin mengambil berkah dari santri yatim tahfidzul qur’an,” kata Amin.   Dengan kejadian tersebut, Amin menyampaikan perlunya ketelitian para petugas handling dari travel umrah. Jangan sampai karena satu kecerobohan yang sangat sederhana saja bisa mengakibatkan masalah yang besar.   Kantor Urusan Haji (KUH) Indonesia di Jeddah memiliki tugas lain dalam pengawasan penyelenggaraan ibadah umrah, selain sebagai bagian dari penyelenggara ibadah haji Indonesia. Komitmen KUH dalam memberikan layanan terbaik kepada para tamu Allah baik jamaah haji maupun umrah dapat terlihat dari rekam jejak KUH selama ini.