Juru Kuci Ka’bah (2)

Penetapan juru kunci ini dilakukan Nabi SAW pada peristiwa ‘‘fathu Makkah’ atau pembukaan kota Mekkah pada 10 Ramadhan tahun ke-8 H/ 1 Januari 630 M. Dikisahkan, sesampai di sekitar Kakbah, Nabi Muhammad bersama ribuan sahabat kemudian thawaf dan saat akan memasuk ke dalam Kakbah, Nabi  memerintahkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, dalam riwayat lain yang diperintah adalah Bilal bin Rabah, untuk mengambil kunci pintu Kakbah dari Utsman bin Thalhah. Dalam kitab Akhbaru Makkah karya Azraqi, redaksi dan narasi tentang kisah pembukaan pintu Kakbah beragam berdasarkan jalur periwayatan, namun intinya serupa.

 

Ketika kunci Kakbah masih dipegang Nabi, Abbas bin Abdul Muthalib sempat minta diberi tugas sebagai juru kunci.”Demi ayah dan ibuku, berikan tugas hijabah (juru kunci) dan siyaqah (pemberi minum jamaah haji) kepadaku.’ Saat itu juga Malaikat Jibril memberi wahyu Surat Annisaa 58, kemudian Nabi bersabda sambil memberikan kembali kunci kepada Utsman bin Thalhah. “Ambillah kunci Kakbah ini hingga tibanya hari kiamat dan tidak akan diambil dari keturunanmu kecuali terjadi ketidakadilan dan penindasan.” Sejak itu, seluruh keluarga Utsman dan Syaibah memeluk Islam.

 

Setelah itu ‘fathu Makkah;,  Thalhah ikut hijrah ke Madinah dan kunci diserahkan kepada Syaibah bin Utsman bin Abi Thalhah, putra pamannya.  Seterusnya pemegang kunci pintu Kakbah diwariskan turun-temurun hingga pewarisnya yang ke-109 (2018 M/ 1439 H), yakni Dr. Shaleh bin Taha Al-Syaibi. Ia merupakan anggota keluarga tertua  menggantikan Syeikh Abdul Qadir Al-Syaibi (ke-108) yang wafat pada 23 Oktober 2014 lalu, ia menggantikan kakaknya, yaitu Abdul Aziz Assyaibi, generasi ke-107 yang wafat tahun 2010.

 

Dulu, juru kunci Kakbah tinggal tidak jauh dari bukit Shafa, sebelah tempat kelahiran Nabi. Saat Masjidil Haram mengalami perluasan besar-besaran, dipindahkan ke kawasan Aziziyah, melewati trowongan dari Masjidil Haram. Di kediamannya, keluarga Syaibah juga biasa menerima tamu dari berbagai Negara yang ingin mendapatkan kisah langsung tentang tugas mengurus Kakbah.

 

Demikianlah, dari tahun ke tahun prosesi buka Kakbah menjelang peristiwa haji menjadi sorotan dunia dan kita perhatikan saat Raja Saudi memasuki Kakbah selalu disertai juru kunci dari Bani Syaibah. Pintu Kakbah yang semula hanya selembar kayu itu kini tampak megah terbuat dari bahan aluminium, perak dan emas, bertabur kaligrafi ayat suci Alquran. Sebuah kunci dilekatkan dan anak kuncinya disimpan bani Syaibah, dibungkus kain berkaligrafi bagian dari Surat An-Nisaa’ 58 yang menjadi SK abadi:  إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا