Juru Kunci Ka’bah (1)

Ketika dibuat daun pintu dan dipasang anak kunci maka sejak itu pula ada yang bertugas sebagai kuncen atau juru kunci Kakbah atau ‘al-Sadanah’ yang dalam tradisi Arab memiliki pengertian sebagai al-Amin (orang terpercaya),  al-Khadim (pelayan) dan  al-Hajib (juru kunci, penjaga pintu). Juru kunci menangani semua urusan mulai dari membuka, menutup, membersihkan, mencuci, memberi kain kiswah (penutup Kakbah) dan semua yang berkaitan dengan itu.

 

Yang  mula-mula menangani masalah sadanah atau hijabah adalah Nabi Ismail AS dan keturunannya, kemudian suku Jurhum, lalu suku Khuzaah sampai kembali kepada Qushay bin Kilab (canggah Nabi SAW), seorang kepala suku Quraisy keturunan Fihr dari bani Kinanah dari Adnan, anak turun Nabi Ismail. Pada masa kepemimpinan Qushay bin Kilab tugas mengurus Kakbah mulai terlembaga. Ia membangun pemukiman di sekitar Kakbah yang sebelumnya terpencar di lembah-lembah berjauhan, lalu mendirikan majelis musyawarah antar kabilah di Darun Nadwah (balai pertemuan) pada tahun 440 M. Lembaga-lembaga pelayanan umum lain juga dibentuk.

 

Setelah Qushay wafat, tugas diwariskan sepenuhnya kepada anak tertua Abdud Dar, terutama urusan kunci Kakbah dan memimpin Darun Nadwah. Sepeninggal Abdud Dar, tugas pokok dibagi dua, yaitu ‘al-Sadanah’ atau ‘al-Hijabah’ (mengurus Kakbah) dan ‘Annadwah’ (pemimpin musyawarah) yang dipercayakan kepada keturunan Abdud Dar bin Qushay hingga ke bani Thalhah (Utsman dan Syaibah) yang dikukuhkan oleh Nabi SAW saat ‘fathu Makkah’ dan berjalan hingga hari ini. Tugas pokok kedua adalah ‘Assiqayah’ (memberi minum jamaah) dan  ‘Arrifadah’ (memberi makan jamaah) diberikan kepada keturunan Abdul Manaf bin Qushay, yaitu Hasyim, kemudian diteruskan Zaid atau Abdul Muthalib. Atas usaha Abdul Muthalib, sumur zam-zam yang lama tertimbun ditemukan dalam keadaan memancarkan air yang dapat dinikmati umat hingga hari ini.

 

SK atau mandat sebagai ‘kuncen’ Kakbah ternyata berlapis-lapis. Tugas ini diberikan berdasarkan wasiat Kepala Suku Quraisy Qushay bin Kilab kepada anak tertuanya, kemudian ditegaskan Nabi SAW untuk suku Quraisy dari klan ‘Bani Thalhah’, lalu dipatenkan oleh Allah SWT dalam Alquran surat an-Nisa, 58. “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.” Demikian kuatnya SK kuncen tersebut hingga meski penguasa berganti berkali-kali, pemegang kunci Kakbah tetap dari ‘Bani Thalhah’.