Skip to Content

Berhajikah Saya?

“BERHAJIKAH SAYA ?” *)

 Diantara syarat haji adalah “istitho’ah”, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Ali Imron ayat 97 yang artinya : “Dan (diantara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu (QS. 3/97)”

 “Mampu” sebagaimana dijelaskan dalam ayat tersebut mencakup beberapa hal yakni : mampu secara finansial (biaya dan bekal perjalanan). Seluruh jamaah calon haji yang akan berangkat pastilah sudah melunasi biaya perjalanan ibadah haji. Demikian halnya setiap calon haji pasti membawa bekal selama perjalanan. Hanya saja besar kecilnya bekal tergantung pada kemampuan masing-masing calon haji.

 Apakah cukup kemampuan finansial saja yang menjadi syarat kewajiban haji. Tentu tidak. Ada kemampuan lain yang juga harus dimiliki setiap calon haji. Bisa jadi kemampuan-kemampuan inilah yang nanti akan menentukan sah tidaknya ibadah haji kita. Maka dalam muqoddimah saya selaku Ketua Umum IPHI saya langsung mengingatkan pada pokok persoalan yang menjadi atensi atau perhatian bagi setiap calon haji yaitu : berhajikah saya.

 Dari pengalaman-pengalaman mengikuti perjalanan para haji yang telah menunaikan ibadahnya, kita mendapat kesan amat beragam. Ada jamaah yang sempurna melaksanakan rukun dan wajib hajinya, bahkan sunnah-sunnahnya. Ada sebagian jamaah yang cukup melaksanakan rukun dan wajibnya, sunnahnya tidak sempurna. Ada sebagian jamaah tidak sempurna melaksanakan wajibnya sehingga mesti membayar dam. Yang lebih fatal ada jamaah tidak tahu apa-apa, hanya mengikuti pembimbingnya saja.

 Beragam kemampuan yang berbeda tersebut amat berkaitan erat dengan kemampuan selain finansial yaitu “kemampuan syar’i” atau kemampuan manasik. Tata cara atau kaifiyah haji juga harus dikuasai. Tidak bisa kita lantas menyederhanakan persoalan manasik. Apalagi kemudian calon haji hanya terjebak pada masalah do’a. Ucapan-ucapan dalam ibadah haji atau yang sering disebut dengan do’a itu hanya sunnah. Syariat haji lebih fokus pada gerakan, bukan pada amalan do’a. Perhatikan waktu thawaf misalnya, bagaimana posisi bahu kiri kita. Bagaimana pula pada waktu sa’i. Bagaimana pula pada waktu kita berihrom. Apa kewajiban dan apa pula larangan yang tidak boleh dilanggar.

 Di samping kemampuan manasik juga ada kemampuan lainnya yaitu “kemampuan manafik” (liyasyhadu manafi’a lahum). Sejatinya ibadah haji adalah miniatur perjalanan manusia menuju Dzat yang menciptakan kita yaitu Allah swt. Oleh karenanya siapapun yang berhaji kemampuan manafik harus lebih didalami, agar setiap prosesi haji mampu menghadirkan dan memberi manfaat. Maka akhlaq haji menjadi kunci utama atas kemabruran haji. Qur’an telah menegaskan agar para haji menjauhi berkata jorok, bersifat fasiq dan berdebat atau bertengkar. Perintah itu mengisyaratkan betapa akhlak haji amat dominan.

 Saya kira inilah sekelumit pesan spiritual saya untuk jamaah calon haji. Saya berdo’a para hujjaj berjaya melaksanakan syariah haji, berjaya memperoleh kemanfaatan sejatinya haji dan kembali dengan predikat “Haji Mabrur”. Dan sesudah kembali ke tanah air nanti dengan selamat saya tunggu untuk bergabung dan berkhidmat dalam wadah Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia di kecamatan maupun kabupaten/ kota masing-masing. Salam.