Skip to Content

Insha Allah hajinya mabrur dan wafatnya syahid

INSYA ALLAH HAJINYA MABRUR DAN WAFATNYA SYAHID

Oleh; HM. Sukiman Azmy

Running teks di televisi itu berbunyi; ”Total Jamaah haji Indonesia yang wafat akibat Tragedi Mina sampai saat ini berjumlah 100 orang dan 29 orang masih dinyatakan hilang”. Pada bagian lain kita jumpai tulisan; “1.800 orang jamaah haji korban Tragedi Mina telah dimakamkan”. Banyak pertanyaan bergelayut dibenak kita, dan kitapun tidak tahu kepada siapa pertanyaan itu diajukan untuk mendapatkan jawabannya. Apakah jamaah yang masih hilang sejumlah 29 orang itu berada dalam empat kontainer jenazah yang hingga tulisan ini dibuat belum dibuka itu ?. Mengapa jumlah korban sedemikian banyak ? Apakah kita akan menyalahkan jamaah, seperti pernyataan Menteri Kesehatan  Arab Saudi itu ? Ataukah kita akan menyalahkan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang tidak antisipatif sebagaimana pernyataan para korban  tragedi Mina yang masih hidup ?.

Mabit di Mina Jadid.

Saat ini banyak orang mengira bahwa jamaah haji Indonesia yang tewas mengenaskan akibat saling dorong dan saling injak di Road 204 Mina itu adalah jamaah yang tidak mengikuti jadwal melontar yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Pernyataan atau pendapat itu ada benarnya jika dilihat dari ketentuan waktu melontar, karena jam melontar untuk jamaah haji Indonesia adalah setelah waktu Ashar sampai malam bahkan sampai subuh, sedangkan peristiwa itu terjadi pada pagi hari. Namun dari penuturan jamaah yang langsung mengalami peristiwa itu secara kronologis dapat ditelusuri mengapa tragedi itu terjadi dan secara mutlak mereka tidak dapat disalahkan. Ada baiknya kita renungkan proses terjadinya peristiwa itu dari sisi  pengalaman jamaah yang secara langsung mengalami, sebelum kita menyimpulkan hasil reka-reka sendiri terhadap penyebab tragedi itu terjadi.

Selesai melaksanakan wukuf di Arafah, sebelum matahari terbenam mereka telah diberangkatkan menuju Muzdalifah. Jamaah itu tidak diturunkan di areal tempat menunggu bus taraddudi sebagaimana biasanya, namun karena kemah mereka berada di Mina Jadid maka bus langsung menurunkan jamaah itu di  Mina Jadid  yang masih merupakan wilayah Muzdalifah itu. Setelah menurunkan barang kemudian masuk ke kemah, mereka melaksanakan shalat jamaah Maghrib dan Isya dengan jama’ ta’khir, barulah mereka makan malam dan selanjutnya beristirahat. Direncanakan jamaah yang tergabung dalam salah satu Kelompok Bimbingan Ibadah Haji itu akan berangkat melaksanakan lempar Jumrah Aqabah keesokan harinya setelah shalat jamaah Subuh. Diantara mereka ada yang duduk-duduk bergerombol bersenda gurau, sementara yang lain duduk tafakkur berwirid atau membaca Al Qur’an.  Ketika sebagian besar jamaah di Mina Jadid itu sudah  beristirahat dengan tenang,  disaat yang sama  jamaah haji lainnya masih berada di Arafah menunggu bus yang akan membawanya ke Muzdalifah, atau ratusan ribu jamaah haji dari seluruh penjuru dunia berada di hamparan lapangan luas berpagar di Muzdalifah itu, menunggu kendaraan yang akan mengantarkan mereka ke kemahnya di Mina setelah diturunkan dari kendaraan yang membawanya dari Arafah untuk mabit walau sejenak sambil mencari kerikil untuk melontar jumrah.

 Dihadang pagar betis Asykar Kerajaan.

Sebelum azan Subuh berkumandang,  jamaah yang sudah beristirahat semalaman dalam kemahnya di Mina Jadid itu telah bangun  dan bersiap untuk melaksanakan shalat Subuh, lalu setelah sarapan dengan bekal ala kadarnya mereka bersama-sama  mengumandangkan talbiyah dengan penuh semangat, berangkat menuju lokasi jamarat melalui jalan King Fahd yang merupakan jalur biasa ditempuh oleh jamaah haji Indonesia. Dalam tayangan video yang direkam oleh salah seorang jamaah yang alhamdulillah selamat dari tragedi itu, dapat dilihat jamaah haji Indonesia itu berjalan dengan tertib dengan bendera kuning cukup besar bertuliskan nama KBIH tempat mereka berhimpun. Tampak paling depan membawa bendera adalah Ketua Rombongan yang memimpin prosesi. Betapa lengangnya King Fahd Road saat itu, hanya rombongan itu yang nampak dalam rekaman, mungkin karena jamaah haji lainnya masih berada di Muzdalifah atau bahkan masih ada di Arafah menunggu kendaraan.

Ketika sampai pada titik tertentu, sekitar satu setengah kilometer dari lokasi Jamarat, mereka dihadang oleh barisan rapat pagar betis orang-orang yang berseragam loreng yang melarang jamaah untuk melanjutkan perjalanan ke Jamarat melalui King Fahd Road itu, dan mengarahkan jamaah untuk mengambil jalur lain. Berawal dari itulah tragedi itu dimulai, tutur jamaah yang selamat itu. Ketika tiga ruas jalan ditutup dan semua jamaah diarahkan melalui satu jalan yang cukup sempit, mulailah terjadi saling dorong antar jamaah, dan yang paling aneh tuturnya, adalah  tidak ada langkah kongkrit dari aparat kemanan yang berada di lokasi itu untuk mengatasi keadaan ketika jumlah jamaah sudah membludak. Dari rekaman video itu memang nampak jelas, ketika jamaah haji sudah menyemut di Road 204, petugas keamanan yang ada justru mengamankan diri dengan berdiri rapat pada pagar besi pinggir jalan  tanpa reaksi terhadap situasi yang dihadapinya. Bahkan yang lebih miris lagi adalah tayangan rekaman video dimana jamaah yang kena musibah justru hanya ditonton oleh para petugas yang berseragam keren itu tanpa berbuat apa-apa.

Berbeda dengan jamah haji korban jatuhnya craine di Masjidil Haram yang belum melaksanakan ibadah haji, jamaah yang tewas pada Tragedi Mina itu baru selesai melaksanakan wukuf yang merupakan puncak prosesi ibadah haji. “Alhajjul ‘Arafah”, Sabda Rasulullah Saw itu telah mereka lalui dengan baik. Karena itu tentu kita berharap haji mereka seluruhnya “mabrur” dan ketika melaksanakan prosesi selanjutnya itulah mereka “syahid”. Dengan demikian dua katagori calon penghuni syurga telah mereka miliki yaitu mereka yang “hajinya mabrur” dan “wafatnya syahid”.  Karena itu kita berharap seluruh keluarga mereka mengikhlaskan kepergian Almarhum/almarhumah untuk menghadap Khaliqnya dengan cara yang mulia itu, dan kita tidak perlu menyalahkan mereka karena mereka sudah tidk dapat membela diri. Wala taqulu liman yuqtalu fi sabilillahi amwat, bal ahya un wala killa tasy’urun. Wallahu a’lamu bishshawab.