Skip to Content

DRS. TUANKU BAGINDO H. MOHAMMAD LETER

DRS. TUANKU BAGINDO H. MOHAMMAD LETER

Kalau berjalan di waktu Zhuhur Sembahyang jangan dilupakan Insya Allah mendapat haji mabrur Iman dan takwa menjadi pegangan. Demikian pantun sederhana, tapi syarat makna. Pantun tersebut menjadi bagian hidup seorang tokoh asal Minangkabau, yang selama ini dianggap sesepuh Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI). Dia adalah Drs. Tuanku Bagindo H. Mohammad Leter

Putra Minang yang akrab disapa Buya Leter ini demikian lekat dengan adat dan budaya tanah leluhurnya. Tak heran Sastra Melayu menjadi salah satu minatnya. Sewaktu muda, Leter termasuk orang yang akrab dengan sastrawan nasional asal Minangkabau, yakni Hamka dan AA Navis. Keakrabannya dengan dunia sastra inlah yang membuat Buya Leter menulis buku dan siap diterbitkan bertajuk Kedudukan Seni Sastra dalam Problematika Pendidikan Agama Islam.

Menilik judul karya tulisnya itu, Buya Leter seolah ingin menawarkan pencerahan tentang sastra yang selama ini sebagian temanya melenceng dari akidah, dalam konteks ini agama Islam. Ya, bagi Buya Leter, sastra harus beriringan dengan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan, sama halnya dengan kiprah dia di bidang urusan haji. Selama ini Buya Leter dikenal sebagai Dewan Penasihat IPHI. Sebagai pengurus IPHI, Buya ingin makna haji pun seperti sastra yang dicita-citakannya, yakni memiliki dimensi keimanan dan ketaqwaan yang kuat. Bagi dia, makna haji tak hanya berangkat ke Tanah Suci. Lebih dari itu, haji harus mencerminkan kepribadian haji sejati, sesuai ajaran Islam.

“Motivasi haji itu ada lima, pertama, haji Lillahi ta’ala; kedua, naik haji sebagai turis; ketiga, naik haji karena dagang; keempat, haji karena gengsi; dan kelima, naik haji untuk minta sedekah. IPHI ingin memberikan penjelasan dan pengarahan bagi calon-calon haji agar sesuai dengan motivasi haji yang diharapkan, yakni haji Lillahi ta’ala, sehingga terbentuk haji yang makbrur,” jelas Buya Leter saat ditemui di kediamannya.

Menurutnya, IPHI harus memberi contoh yang baik dalam berbagai aspek kehidupan dewasa ini, misalnya dalam pergaulan sosial dan pendidikan. Melalui IPHI, orang yang menyandang haji bisa benar-benar memberikan keteladanan kepada umat, misalnya dalam hal berpakaian. IPHI telah memperlihatkan contoh kalau anggotanya berkumpul kehajiannya terlihat dari pakaiannya yang sopan untuk memelihara identitas. “Seseorang itu harus memperlihatkan jati dirinya dengan pakaian, begitu juga yang sudah jadi haji. Lebih penting lagi, menjadi haji itu bisa menampakkan kesungguhan, keikhlasan, dan ketaqwaan. Selain itu, IPHI pun ingin memberikan informasi bagaimana orang yang sudah mampu bisa memikirkan orang miskin,” kata penyuka dakwah, menulis, membaca, dan olahraga ini.

Karena itulah, selama ini Buya Leter dan rekan-rekannya di IPHI selalu memberikan konsultasi bagi siapa saja yang ingin tahu seputar haji, terutama soal pemantapan ibadah agar menjadi haji yang benar, baik dilihat dari sikap batiniah, lahiriah, sampai sikap implementasinya. “Menjadi haji itu bukan riya’. Menjadi haji itu supaya mengingatkan kita agar kelakuan berubah ke arah yang lebih baik. Begitu juga IPHI. Kita berkumpul untuk umat. IPHI adalah organisasi kebajikan. IPHI ada untuk menjaga kemabruran haji,” imbuh Buya.

 

Bagi Buya Leter, IPHI sebagai organisasi sosial kini tengah berupaya mengembangkan program-program yang berkaitan dengan kesehatan, pendidikan, dan perekonomian rakyat. Dia mengatakan, program tersebut kini tengah berjalan. Menurut Buya, IPHI kini tengah merancang kerjasama dengan pemerintah, dalam hal ini Kementrian Agama. Kerjasamanya adalah mencari cara memanfaatkan dana untuk membangun perekonomian rakyat. Dengan cara itu, orang yang sudah naik haji atau pasca haji bisa memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi kepentingan umat. “Contohnya, IPHI melatih masyarakat agar punya skill. Setelah punya skill, baru diberi modal usaha. Dewasa ini cara seperti itu sangat diperlukan agar masyarakat memenuhi tiga dimensi pendidikan, yakni spiritual, intelektual, dan profesional, yang selama ini saya kira tidak terealisasi dalam sistem pendidikan nasional,” ujar Buya, yang menyorot Pendidikan Nasional di Indonesia perlu dibenahi.

Naik Haji Usia 46 tahun


Meski sudah tiga periode menjadi pengurus IPHI dan beberapa kali menjabat di organisasi Keislaman, ternyata dalam soal naik haji, Buya Leter boleh dibilang terlambat. Tapi toh keterlambatannya bukan suatu yang disesali. Malah justru suatu kebanggaan. “Ya saya sanggup naik hajinya usia itu, mengapa harus dipermasalahkan? Sebenarnya saya ingin sekali naik haji pada usia 30 tahunan. Tapi baru pada umur 46 cita-cita saya tercapai. Bagi saya itu kehendak Allah semata,” kenang Buya.

Buya Leter baru naik haji usia 46 tahun. Tapi itu bukan berarti wawasan dan pengalamannya seputar haji masih kurang. Latar belakang budaya dan pendidikannya justru membuat Buya menjadi sosok yang berwawasan luas soal agama Islam, khususnya seputar haji. Jadi, tak heran jika pengurus IPHI menanggap Buya Leter sebagai sesepuhnya. Sejak IPHI berdiri tahun 1990, Buya berkali-kali diminta memimpin muktamar IPHI, sampai akhirnya dia menjadi anggota Dewan Pembina IPHI, selama 3 periode. “Waktu itu saya merasa tertantang agar bisa menyelamatkan identitas haji yang baik,” katanya ketika ditanya perasaannya pertama kali menjadi bagian dari organisasi IPHI.

Perjalanan Buya Leter di IPHI melalui berbagai fase organisasi. Tahapan ini bermula dari pengalamannya berorganisasi di Sumatera Barat. Buya pernah menjadi Ketua Ikatan Pesantren Sumatera Barat, lantas dia diangkat menjadi Ketua Badan Koordinasi Persaudaraan Haji pada masa pemerintahan Gubernur Hasan Basri Durin. Tak hanya itu, dia sempat menjadi Sekretaris MUI Sumatera Barat, yang menjadi embrio MUI Nasional. Jabatan lainnya adalah sebagai Ketua IPHI Sumatera Barat, Ketua Ikatan Mubaligh Sumatera Barat, dan sejumlah jabatan penting lainnya.

Karena sejumlah pengalaman organisasi itulah Buya Letter memang tak diragukan lagi menjadi salah satu tokoh penting di IPHI sampai sekarang. Latar belakang budaya Minang yang memegang kuat nilai-nilai Islam plus riwayat pendidikan agamanya adalah fakta yang mematangkan Buya Leter menjadi salah satu orang yang berpengaruh di IPHI. (source: Thawaf Magz)

 

Biodata :

Nama Lengkap      : Drs. Tuanku Bagindo H. Muhammad Leter

Kelahiran               : 16 April 1934

Pendidikan            : Sarjana S2 Jurusan Pendidikan Agama Islam, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Isteri                      : Hj. Rosmi

Anak                     :

                                    Yulnir (50 tahun)

                                    Drs. Zahiin (49 tahun)

                                    Rifi Yudian,SE (48 tahun)

                                    Hamdi, SE (47 tahun)

                                    Afiva Elsia (45 tahun)

                                    Ulfah (42 tahun)

                                    Wardirayan (41 tahun)

                                    Taslim, SE (36 tahun)