Inilah Bupati Pertama Yang Berangkat Haji, Disambut Seperti Kepala Negara

Menurut catatan Henri Chambert-Loir, jamaah haji Indonesia pada tahun 1924 berjumlah 39.800 di antara 131.600 jamaah asing. Sementara, jumlah orang Jawi yang bermukim di tanah suci amat banyak. Tidak diketahui jumlahnya pada tahun 1924, tetapi sekedar gambaran, pada tahun 1931 jumlahnya mencapai 10 ribu orang.

R.A.A Wiranatakusuma mendapat berbagai fasilitas tambahan selama menunaikan ibadah haji. Kendati demikian, ia tetap memerhatikan penderitaan orang-orang sebangsanya. Ia memaparkan dengan blak-blakan segala kekurangan dalam lembaga pengurusan haji.

Ia mempunyai sebuah kabin di atas kapal, sedangkan penumpang yang 1.100 banyaknya mengalami kondisi amat susah. Kapten membagi penumpang dalam kelompok dua ratus orang, dengan ketua masing-masing. Wiranatakusuma ditunjuk sebagai ketua keseluruhan. Ia sangat dihormati dan digelari Raja Bandung.

Wiranatakusuma tampil sebagai orang yang peka dan murah hati. Ia tekun memperhatikan para penumpang, mengamati penderitaan mereka, dan menemani dokter dalam pemeriksaan rutin. Ada jamaah yang miskin, menginap berlima belas di kamar yang panas dan kekurangan air. Saat kembali dari Mekkah melalui Mina, ia mencatat, “Ada orang yang mati, yang sakit berpuluh-puluh.”

Kondisi yang kumuh, makanan yang dianggapnya buruk, keadaan masyarakat yang terbelakang, serta perampokan di sepanjang jalan oleh penduduk Arab dan Badui turut menjadi keprihatinan Wiranatakusuma di tanah suci.

Atas kebaikan Raja Sharif Husein, Wiranatakusuma mendapat berbagai fasilitas dan tanda kehormatan. Perjalanan dari Jeddah ke Mekah dilakukannya dengan mobil raja. Pada Idul Adha, ia juga shalat di samping raja, kemudian dianugerahi Bintang Istiqlal kelas satu, suatu tanda penghormatan setinggi-tingginya di negeri itu.

Kebanyakan waktu ia habiskan untuk mengunjungi pemukim Indonesia di Mekkah, terutama orang Sunda. Banyak pula orang sakit yang meminta obat kepadanya. Sampai-sampai ia menulis, “Orang memandang saya di sini sebagai seorang bapak dari orang Sunda.”

Bupati Bandung ini juga memperhatikan persatuan orang-orang Muslim dari seluruh dunia yang berkumpul di Masjidil Haram.

“Sekian banyak manusia sujud belaka menyembah satu Tuhan; bermacam-macam bangsa, dari berbagai-bagai negeri dengan wujud yang sama, telah berkumpul ke Mekah dan hidup di sana sebagai bersaudara. Saya sendiri pun turut menjadi bahagian dari persaudaraan yang besar itu,” ungkap Wiranatakusuma, dalam Perdjalanan Saja ke Mekah edisi Balai Pustaka.