Rindu Dokter Maya Terjawab Sudah, Sampai Kota Suci Bercucur Air Mata

Enam tahun lalu dr Eva Maya terbersit keinginan pergi haji sembari menjalankan amanah sebagai dokter. Niatan itu coba diwujudkan dengan mendaftar secara online sebagai petugas tenaga kesehatan Indonesia.

“Saya daftar tahun itu juga. Alhamdulillah, saya sempat terkejut, ternyata diterima,” kata Pegawai Negeri Sipil Terbaik I Jawa Barat yang bertugas haji pada musim haji tahun 2015 ini.

Kegembiraan itu rupanya bertahan sebentar. Sebagai seorang ibu dari empat enak, Eva merasa bimbang. Naluri seorang ibu membuatnya berpikir siapa yang akan menjaga dan mengursi anak-anaknya. “Awalnya ragu diambil atau tidak. Apalagi, anak yang paling kecil  usianya baru 1,5 tahun,” kenang Istri Iman Priatna Rahman ini.

Tak lama, Eva mengakhiri kebimbangan itu. Dengan mengucap bismillah, ia memilih berangkat ke Tanah Suci. “Saya waktu itu yakin, Allah telah mengatur jalan saya untuk haji. Ketika Allah menetapkan itu, saya percaya Allah akan menjaga keluarga dan anak. Inilah yang menguatkan saya,” kata dia.

Setibanya di Madinah, air mata Eva bercucuran. Ia tak henti mengucapkan rasa syukur. Sembari bertugas melayani jamaah, Eva melepaskan kerinduan kepada Rasulullah. Ia datangi Masjid Nabawi. Lalu, berziarah ke makam Nabi terakhir itu. “Ini pengalaman yang mengharukan. Keinginan terpendam menuju Tanah Suci akhirnya terwujud. Saya luapkan kerinduan yang luar biasa kepada sosok yang mengenalkan saya kepada Allah,” kata dia.

Air mata kembali membasahi wajah Eva ketika tiba di Makkah. Di Masjidil Haram, tepat di gerbang utama, ia langsung melihat Ka’bah. “Setiap saya melihat Ka’bah di kalender atau apa pun, saya selalu merasa rindu,” tuturnya.

Diam sejenak, terharu dengan apa yang diingatnya sewaktu haji, ia melanjutkan obrolan kepada Republika. Kepada Republika, ia mengungkap, haji merupakan pelengkap rukun iman umat Islam. Satu pelengkap yang luar biasa mengingat Eva menjalani dua tugas suci, melayani jamaah dan berhaji. “Alhamdulillah,” katanya penuh syukur.

Sebagai seorang dokter, Eva diamanahkan untuk menjaga dan merawat jamaah haji. Tugasnya sangat berat. Apalagi, 50 persen dari jamaah risiko tinggi Indonesia berusia lanjut. Kesigapan dan ekstra perhatian harus dilakukannya guna menjaga kesehatan jamaah.

Sejak awal, Eva yang bertugas untuk rombongan kloter melakukan pemeriksaan kesehatan secara intensif. Pada pemeriksaan itu ia menemukan beragam penyakit pada jamaah usia lanjut. Seperti, darah tinggi, kencing manis, stroke ringan, gangguan fungsi hati, dan lainnya. Belum lagi, ada kemungkinan risiko kelelahan dalam perjalanan. “Alhamdulillah, ini bisa kita tangani,” kata dia.

Selama bertugas, suasana tegang kerap dialami Eva. Satu contoh, ketika hendak berangkat menuju Tanah Suci. Di bandara, para calon jamaah ini harus melalui pemeriksaan suhu. Bagi jamaah yang memiliki suhu badan di atas 38 derajat Celsius dilarang berangkat. “Alhamdulillah, kami coba tangani dengan pemberian obat, berikut negosiasi yang dilakukan kepada petugas bandara, jamaah kloter tempat saya bertugas diperbolehkan berangkat,” kata dia.

Masuk pesawat, Eva tidak lantas bisa bersantai. Karena, ada keluhan muncul dari jamaah, seperti mabuk perjalanan. Belum lagi, ada jamaah yang tidak terbiasa menaiki pesawat dengan jarak tempuh jauh.

Memasuki fase Armina (Arafah-Mina), Eva harus bekerja keras guna memastikan jamaah bisa berangkat. Pada waktu itu ada dua orang mengalami penyakit sirosis hati dan stroke. Ia bersama timnya berupaya semaksimal mungkin menangani keduanya. “Alhamdulillah, seluruh jamaah bisa berangkat,” kata dia.

Namun, ketika selesai wukuf, ada jamaah stroke ringan tiba-tiba tak sadarkan diri. Sempat panik, Eva segera memberikan pertolongan pertama. Diberikanlah infus dan oksigen. Lalu, dibawalah pasien itu menuju posko kesehatan untuk ditangani petugas spesialis.

Setelah dari Arafah, Eva dan jamaah menuju Muzdalifah. Di sana, ia bersama jamaah bermalam tanpa naungan gedung atau tenda. Kondisi jamaah benar-benar harus dijaga. Kemudian, setibanya di Mina, yang semula lancar, tiba-tiba pasien sirosis memburuk. “Kita antar beliau ke PPIH. Kita telah berupaya maksimal. Tapi, Allah berkhendak lain. Akhirnya, ia meninggal di Mina. Almarhum telah menjadi haji karena sudah melengkapi rukun haji, alhamdulillah,” kata dia.

Karena itu, Eva menyarankan kepada jamaah agar benar-benar menjaga kesehatan sejak awal. Jangan baru memeriksakan kesehatan mendekati berangkat. Mulai dengan mengonsumsi makanan yang sehat, berolahraga. Eva juga mengusulkan agar petugas kesehatan haji Indonesia ditambah. “Minimal, satu kloter dua dokter mengingat jamaah risiko tinggi Indonesia ketimbang negara lain lebih banyak,” harapnya. (rol)