Kakbah dari Masa ke Masa (1): Dinobatkan Sebagai Bangunan Pertama di Muka Bumi

Keistimewaan Kakbah meruang dan mewaktu berpendar kepada semesta mahluk serta dunia dan isinya. Dari Kakbah inilah ejaan pertama sejarah umat manusia bermula. Melalui titik kiblat yang seolah sebagai ‘base transceiver station’ (BTS) ini sinyal kehambaan mahluk bumi diteruskan ke langit Arsy-nya Allah SWT. Bagaimana Kakbah dapat sedemikian istimewa? Hanya Allah SWT Yang Maha Mengetahui dan Maha Menghendaki, tetapi ada titik-titik penjelas dari Alquran, hadis, riwayat-riwayat dan catatan sejarah tentang Kakbah sehingga sedemikian istimewa dan istimewa.

Berdasarkan teks Alquran yang mutlak diyakini kebenarannya, Kakbah adalah bangunan pertama di muka bumi. “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” Ayat ini turun untuk menegaskan klaim ahli kitab yang menyebut Baitul Maqdis di Palestina sebagai tempat ibadah pertama di bumi. Pada ayat berikutnya diperjelas dengan tanda-tanda nyata yaitu makam Ibrahim (bekas tapak dalam pembangunan), 40 tahun kemudian Nabi Ibrahim AS ke Palestina kemudian membangun Baitul Maqdis.

Dari sini dapat dikatakan bahwa sejak detik pertama penciptaan, Kakbah sudah membawa keistimewaan bawaan. Kistimewaan berikutnya karena kehadiran Kakbah di muka bumi melibatkan Malaikat. Lalu Kakbah diputuskan sebagai kiblat dari manusia pertama menjejakkan kaki di tanah, sampai hari ini hingga kelak saat hari diakhiri. Jelas istimewa karena mahluk senantiasa terkait dan terikat dengan Kakbah sebagai titik sambung ‘ilahiah’ dari waktu ke waktu dari generasi ke generasi.

Kakbah makin istimewa karena namanya pun diberikan Allah SWT sendiri sebagaimana tertuang dalam beberapa ayat Alquran seperti: “Allah telah menjadikan KAKBAH, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram , had-yu, qalaid. Allah menjadikan yang demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Selain itu, Allah SWT juga menyebut Kakbah dengan nama lain yang makin menegaskan keistimewannya, yaitu:
1. al-Bait, artinya rumah Allah. Sebutan ini tersebar dalam beberapa surat antara lain al-Baqarah (2:125): “Dan ingatlah ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman.
2. al-Bait al-Haram, artinya rumah suci, tertulis dalam al-Maidah (5:97): “Allah telah menjadikan Kakbah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia bagi) manusia.”
Kakbah dinamakan al-Bait al-Haram karena adanya larangan berburu dan mencabut pepohonan sehingga kesucian lingkungannya terjaga. Sebutan al-Haram meliputi keseluruhan kota Mekkah dengan Kakbah sebagai pusatnya.
3. al-Bait al-Muharram. Antara lain tertuang dalam QS Ibrahim: 37 “Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-MU (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”
4. al-Bait al-Atiq, artinya rumah tua. Dalam Surah al-Hajj ayat 29: “Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka, menyempurnakan nazar-nazar dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (al-Bait al-Atiq).”

al-Atiq mengandung makna bahwa di dalam Kakbah, Allah membebaskan (yu’tiq) orang-orang dari adzabnya.
5. Qiblat: “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai…”

Pada masa sebelum Islam, masyarakat sekitar juga memiliki sebutan untuk Kakbah seperti: al-Qadis, al-Nadzir dan al-Qaryah al-Qadimah (desa kuno) dan lainnya. Semua sebutan di atas mengacu pada Kakbah yang terletak di dalam Masjidil Haram di Mekkah sebagai ‘ummul qura’ atau Ibukota seluruh perkampungan di bumi sebagaimana disebut dalam Alquran. Ini merupakan perkampungan tertua di muka bumi, yang di dalamnya juga terdapat bangunan pertama di muka bumi.

Kata Kakbah dengan akar yang sama tetapi mengacu pada makna lain terdapat dalam surat al-Maidah, 5: 6, yaitu- الْكَعْبَيْنِ -‘Kakbain’, bentuk ‘dual’ atau tasniah (dua) untuk makna ‘dua mata kaki’. Dalam perkembangan selanjutnya, kata Kakbah juga digunakan untuk sebutan pada bangunan-bangunan bentuk kubis persegi empat (rubui), namun sepenuhnya secara mutlak Kakbah adalah bangunan yang ditentukan Allah sebagai titik kiblat. Dengan demikian Kakbah selain dalam pengertian hakikinya sebagai kiblat, juga mengandung pengertian “mata bumi” yang terus berotasi pada poros seraya melakukan evolusi mengelilingi matahari.